Syarat Jual Beli Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Syarat-syarat keabsahan jual beli meliputi syarat pelaku akad dan syarat barang. Pertama, syarat orang yang melakukan akad jual beli. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. an-Nisâ’/4: 29). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ Jual beli itu hanya bisa jika didasari dengan keridhaan masing-masing. (HR. Ibnu Hibbân, Ibnu Mâjah, dan yang lain (Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah, no. 2180 dan Ibnu Hibbân no. 4967 (lihat al-Mulakhhash al-Fiqhiy, Syaikh Shâlih Fauzân, 2/9)). Kecuali jika alasan pemaksaan itu bisa dibenarkan. Misalkan, seorang hakim yang memaksa orang yang memiliki tanggungan hutang untuk menjual barang-barang yang dia miliki untuk melunasi hutangnya. Maka ini diperbolehkan. Bagaimana dengan Akad Jual Beli yang Dilakukan oleh Anak Kecil? Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah, mengatakan: “Transaksi yang dilakukan oleh orang pandir dan anak kecil itu tidak sah tanpa izin walinya, meskipun dia sudah remaja, berusia 14 tahun, cerdas, dan bagus dalam jual beli.” Beliau rahimahullah berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’alaa: وَابْتَلُوا الْيَتٰمٰى حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَۚ فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS. an-Nisâ’/4: 6). (Syarhul Mumti’, 8/110). Dalam kitab Shahih Fiqih Sunnah, ketika menjelaskan hukum akad yang dilakukan anak kecil, penulis membedakan antara akad yang dilakukan anak kecil yang sudah mumayyiz (mampu membedakan) dan yang belum mumayyiz. Anak yang belum mumayyiz, jika melakukan akad jual beli maka akadnya tidak sah. Sedangkan untuk yang sudah mumayyiz, para ulama berbeda pendapat: Pertama, jual beli yang dilakukannya tidak sah, baik dengan izin wali apalagi tanpa izin. Ini merupakan pendapat Syâfi’iyyah juga dibawakan oleh Abu Tsaur. Kedua, jika wali memberikan izin, maka akad jual belinya sah. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad, Ishâq, Abu Hanîfah, ats-Tsauriy. Sementara Ibnul Mundzir rahimahullah mengaitkan pendapat Imam Ahmad dan Ishâq dengan barang-barang yang kecil saja. Ketiga, boleh meskipun tanpa izin. Ini adalah riwayat dari Abu Hanifah. Kemudian penulis mengatakan bahwa pendapat yang râjih tentang hukum transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang sudah mumayyiz yaitu tidak sah. Lalu penulis membawakan dalil yang sama dengan dalil yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah. Kemudian penulis menutup pembicaraan tentang ini dengan menukilkan perkataan Imam asy-Syaukâni rahimahullah dalam as-Sailul Jarâr: “Namun jika anak kecil itu memiliki wali dan walinya mengizinkan dia untuk melakukan transaksi, maka izin wali inilah yang dianggap bukan sekedar transaksi ini. Allah subhanahu wata’alaa telah memerintahkan para wali untuk menuliskan atas nama dia dan Allah subhanahu wata’alaa mengalihkan transaksi yang dilakukan anak kecil ke walinya. Allah subhanahu wata’alaa berfirman. فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِۗ Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekannya, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan jujur. (QS. al-Baqarah/2: 282). لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ Janganlah engkau menjual sesuatu yang bukan milikmu. (HR. Ahmad, 3/402, 434; Abu Dâwud no. 3503; an-Nasâ’i, 7/289; at-Tirmidzi dalam bab Buyû’, no. 1232, dan Ibnu Mâjah, no. 2187) (Syarhul Mumti’, 8/128). Dengan demikian, kalau ada orang yang melakukan akad jual beli pada barang yang bukan miliknya, maka akad itu tidak sah, meskipun yang melakukan transaksi itu seorang bapak pada barang yang menjadi hak milik anaknya. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah mengatakan: “Jika ada yang berkata: Bukankah Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Kamu dan hartamu adalah milik orang bapakmu.” Kami katakan: ‘Benar, namun jika seorang bapak hendak menjual harta benda anaknya, maka hendaklah dia memilikinya terlebih dahulu, kemudian setelah menjadi hak miliknya baru dijual.” Syaikh Shâlih Fauzân membawakan sebagian contoh jual beli yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki barang yaitu, seorang pembeli datang kepada seorang pedagang untuk mencari suatu barang. Sedangkan barang yang dicari tersebut tidak ada pada pedagang itu. Kemudian antara pedagang dan pembeli saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekarang ataupun nanti, sementara itu barang belum menjadi hak milik pedagang atau si penjual. Pedagang tadi kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli. Jual beli seperti ini hukumnya haram, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu sudah ditentukan (Dikutip dari Majalah as-Sunnah, 03/IX/1426H/2005M, hlm. 4). Kedua, syarat barang yang diperjualbelikan. إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَاْلأََصْنَامِ Sesungguhnya Allah dan RasulNya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung. (Muttafaq ‘alaih). Dalam hadis Abu Daud: إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْخِنْزِيرَ وَثَمَنَهُ Sesungguhnya Allah subhanahu wata’alaa mengharamkan khamr dan hasil penjualannya, mengharamkan bangkai dan hasil penjualannya, mengharamkan babi dan hasil penjualannya. (HR. Abu Dâwud, no. 3485, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Juga tidak boleh memperjualbelikan minyak yang najis ataupun yang tercampur najis. Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ Sesungguhnya jika Allah telah mengharamkan sesuatu, maka Allah juga mengharamkan hasil penjualannya. (HR. Abu Dâwud dan Ahmad). Dalam sebuah hadis yang disepakati keshahîhannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai? Sesungguhnya lemak ini bisa dipergunakan untuk mengecat perahu, melembabkan kulit, dan menyalakan lampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak boleh. Itu barang haram.” Jika terjadi transaksi, padahal salah satu pelaku transaksi tidak mengetahui barangnya atau alat tukarnya, berarti ada ketidaktahuan dan ketidaktahuan (ketidakjelasan) itu adalah gharar. Sementara jual beli yang mengandung unsur gharar yang berpotensi menimbulkan perselisihan dilarang dalam Islam dan tidak sah. Namun jika unsur gharar (ketidakjelasan -pent) ini sedikit, sehingga tidak berpotensi menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang, maka jual beli itu sah. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Larangan jual beli dengan gharar ini termasuk dasar yang penting dari dasar-dasar jual beli. Oleh karena itu Imam Muslim meletakkan hadis di awal. Yang termasuk dalam jual beli dengan gharar ini banyak sekali, tidak terhitung, seperti menjual budak yang melarikan diri, menjual sesuatu yang tidak ada, menjual sesuatu